MENGENAL PENGOBATAN STEM CELL, TEROBOSAN TERAPI UNTUK PENYAKIT DEGENERATIF DAN REGENERASI SEL DI RSUP DR. SARDJITO
humas
15 Juli 2025
4 Menit Baca
YOGYAKARTA, (15/07/02025), Stem cell merupakan pengobatan untuk menggantikan sel tubuh rusak. Keberadaannya saat ini terus dikembangkan di RSUP Dr Sardjito. Pakar Stem cell atau yang dikenal dengan sel punca, dr. Rusdy Ghazali Malueka, PhD., SpS(K), menyampaikan bahwa Stem cell atau sel punca merupakan sel 'induk' yang memiliki kemampuan unik untuk memperbarui diri dan berkembang menjadi berbagai jenis sel dalam tubuh, seperti sel saraf, otot, tulang, atau kulit. Mereka berfungsi seperti sistem perbaikan alami tubuh yang membantu regenerasi jaringan rusak akibat penyakit, cedera, atau penuaan. “Di Sardjito Stem Cell and Regenerative Center, kami memanfaatkan potensi ini untuk terapi yang bertarget dan aman.” Ungkapnya saat ditemui di Klinik Amarta RSUP Dr Sardjito pada Rabu, 15 Juli 2025.
Stem Cell ini, lanjut dr. Rusdy memiliki berbagai jenis dengan sumber dan fungsi berbeda, yang paling umum berupa Stem cell embrionik, yang berasal dari embrio. Jenis ini hanya boleh digunakan untuk penelitian, ada isu etika yang harus diperhatikan terkait penggunaannya karena menggunakan embrio manusia yang bisa berkembang menjadi individu utuh. Selanjutnya Stem cell dewasa, berupa sel punca non embrionik, misalnya dari tali pusat janin, sumsum tulang, lemak, atau darah. Selain dua jenis itu, diterangkan dr. Rusdi, ada jenis lainnya yaitu Induced pluripotent stem cell (iPS) yang dibuat di laboratorium dari sel dewasa, dan ini juga hanya digunakan untuk penelitian. Satu lagi jenis stem cell dari hewan atau tumbuhan, “Ini tidak boleh digunakan pada manusia, karena risiko efek samping akan muncul,” terangnya.
Dokter Spesialis Saraf Konsultan ini menyayangkan bahwa tidak semua iklan di luar yang menjelaskan secara detail mengenai jenis stem cell yang digunakan. “Sementara di Sardjito Stem Cell and Regenerative Center, kami menggunakan sel punca dari tali pusat atau Umbilical cord derrived mesencymal stem cell, sel punca dari sumsum tulang, serta turunan sel punca (sekretom). Pasien berhak menanyakan tentang stem cell yang digunakan ini sebelum memutuskan terapi.” Uangkapnya ditengah wawancara.
Menurutnya, terapi stem cell ini telah diteliti untuk berbagai kondisi, seperti pada penyakit degenerative semacam Osteoarthritis, diabetes tipe 2, dan Parkinson. Selain itu untuk menangani pula penyakit saraf dan tulang belakang seperti cidera saraf tulang belakang, stroke. Manfaat lain untuk penanganan gangguan autoimun seperti pada lupus, rheumatoid arthritis.
Diterangkan manfaat lainnya, berupa pemulihan organ pada jantung pasca-serangan, kerusakan hati, gagal ginjal, dan luka kronis lainnya. Tentu saja bermanfaat pula untuk kecantikan dan anti-aging, diantaranya rejuvenasi kulit dan rambut rontok. Namun, pesan dr. Rusdi, efektivitasnya tetap tergantung pada kondisi pasien dan jenis stem cell yang digunakan. Sarannya, perlu konsultasi terlebih dahulu dan pemeriksaan menyeluruh sebelum merekomendasikan terapi sel punca ini.
Stem cell sendiri sebenarnya telah diteliti puluhan tahun di dunia, tetapi perkembangan pesatnya terjadi dalam kurun waktu 10-15 tahun terakhir berkat kemajuan teknologi yang ada. Penelitian-penelitian baru mulai bermunculan yang menunjukkan keamanan dan efektivitas terapi ini sehingga semakin banyak digunakan, katanya.
Di Indonesia, regulasi dan infrastrukturnya sudah ada dalam bentuk Peraturan Menteri Kesehatan, dimana mengatur mengenai penggunaan terapi ini, “inilah sebabnya sekarang perkembangannya semakin pesat,” Tegasnya lagi.
Prosesnya pemberian stem cell pada pasien, diberikan melalui langkah diantaranya, Stem cell yang disuntikkan atau diinfus tersebut akan 'bermigrasi' ke jaringan rusak. Stem Cell ini merangsang regenerasi sel dan perbaikan sistem imun untuk mengurangi peradangan, selanjutnya Hasilnya bisa dirasakan dalam beberapa minggu hingga bulan, tergantung kondisi pasien. Contohnya pada pasien osteoarthritis, biasanya nyeri berkurang dan mobilitas membaik dalam 3-6 bulan. Pada pasien stroke, butuh waktu 3 bulan hingga 12 bulan untuk pemulihan maksimal.
Sedangkan effek samping pada tindakan stem cell yang harus diwaspadai, terang dr. Rusdi akan muncul efek samping ringan seperti demam atau kemerahan di area suntik mungkin terjadi, tetapi hal ini jarang terjadi. Adapun risiko serius bisa terjadi infeksi atau reaksi imun. Kondisi resiko ini dapat dihindari apabila stem cell yang digunakan tersebut sudah lolos uji sterilitas, tim dokter yang menangani berpengalaman, dan terpenting ada pemantauan pasca-terapi. Disampaikan pula bhwa tidak ada persiapan khusus maupun batasan usia untuk dapat menjalani terapy ini. Namun pada kondisi tertentu perlu persiapan seperti menghentikan obat tertentu atau kontrol tekanan darah, ini tergantung dari indikasi tindakan yang dilakukan.
Menurut dokter Lulusan UGM ini, Prosentase penyembuhan dengan metode stem cell ini menunjukkan angka keberhasilan bervariasi tergantung penyakit dan respons individual. Misalnya untuk Osteoarthritis bisa mencapai 70-80% pasien melaporkan perbaikan nyeri dan fungsi sendi. Untuk Diabetes dapat terjadi pengurangan kebutuhan insulin pada 50-60% pasien. “Terapi stem cell ini tidak menjamin sembuh total, tetapi terapi ini ditunjukkan di banyak penelitian bisa meningkatkan pemulihan fisik dan kualitas hidup signifikan bila dikombinasi dengan terapi standar,” ungkapnya diakhir wawancara.
Sementara Manajer hukum dan humas RSUP Dr Sardjito, Banu Hermawan,SH.,MHLi menyampaikan bahwa untuk mengakses atau mendaftar layanan stemcell ini pasien bisa menghubungi poliklinik Sardjito Stem Cell and Regenerative Center melalui WhatsApp di nomor 081326910246 untuk booking konsultasi atau melalui Hotline : 1500705.(*)
Bagikan Artikel: