STAND UP FOR EPILEPSY, RS SARDJITO KUATKAN DUKUNGAN BAGI PASIEN EPILEPSI
humas
26 Maret 2025
2 Menit Baca
Yogyakarta – Penyelenggaraan acara Hari Kesadaran Epilepsi Sedunia dilaksanakan di Gedung Kesehatan Ibu dan Anak lantai 2 RS Sardjito. Tahun ini mengangkat tema tentang "Stand Up to Seizures". Peringatan ini penting untuk meningkatkan kesadaran tentang penyakit epilepsi, penegakan diagnosis, cara mengobati, hingga penghapusan stigma terhadap epilepsi, Rabu (26/3).
Acara dibuka oleh dr. Dian K. Nurputra, Ph.D., M.Sc, Sp.A, Subsp Neuro(K), kemudian sambutan dr. Agung Triono, Sp.A (K), dan Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia cabang Yogyakarta, Dr. dr. Tunjung Wibowo, MPH, SpA(K), setelah itu mendengarkan edukasi dan tanya jawab tentang kejang pada anak yang disampaikan oleh dr. Listia Ningrum, M.Sc, Sp.A, acara ini juga dihadiri oleh Prof. Dr. dr. Elisabeth Siti Herini, Sp.A(K). Dalam peringatan kali ini diikuti dengan pembagian balon kepada pasien sebagai bentuk dukungan kepada orang tua dalam membersamai perjuangan anak-anak untuk sembuh karena epilepsi agar mereka tetap bersemangat, tetap memiliki afirmasi positif, tetap berupaya bersama-sama dengan teman-teman dokter dan tenaga kesehatan yang lainnya untuk bisa tetap hidup dengan yang baik. Minimal memastikan kualitas hidup anak itu baik, baik itu dalam bentuk kendali kejang yang bagus, kendali komorbiditas atau kualitas hidup yang baik dalam hal bermain, belajar, bersenang-senang, bersosialisasi bersama dengan keluarga dan teman-teman lainnya.
“Maka dari itu, kami selalu mendampingi Bapak-Ibu semua dan jangan lupa kita juga selalu bisa dihubungi di RS Sardjito, kita juga punya WA Group yang berisi para ahli di mana di situ Bapak-Ibu, ataupun pasien-pasien penyakit epilepsi bisa bergabung bersama dalam keluarga Epilepsiana Jogja dan RPEI (Ruang Peduli Epilepsiana Indonesia) agar kita bisa saling sharing baik pengalaman maupun pertanyaan” ungkap dr. dian dalam wawancara singkat.
Sebagai informasi epilepsi didefinisikan dengan kejang yang berulang yang berawal dari otak. Biasanya epilepsi baru didiagnosis setelah seseorang mengalami lebih dari 1 kali kejang. Sepanjang sejarah dunia, epilepsi dipandang sebagai sesuatu yang menakutkan, dihindari, dan harus ditutupi. Padahal stigma negatif pada penderita epilepsi berhubungan erat dengan kualitas hidup mereka. Penelitian menunjukkan bahwa rasa malu akibat epilepsi berhubungan dengan kontrol kejang yang tidak adekuat, peningkatan resiko depresi, kecemasan, dan isolasi.
Jika epilepsi didiagnosis dan diobati dengan tepat, sekitar 70% dari orang yang mengalaminya diyakini dapat hidup bebas dari kejang. Penting bagi masyarakat untuk menyadari pentingnya deteksi dini hingga mengobati epilepsi dengan benar, karena melalui diagnosis dan pengobatan yang tepat, kita dapat menyelamatkan para penderita epilepsi”. (Sumber: Epilepsy society, WHO Fact Sheet). Red-Humas
Bagikan Artikel: